20 % Lagi !!!! Bersentuhan Dengan Jurnalisme Kuning. Ini Bahaya !!!!

11 May 2009

American Editors:  Joseph Pulitzer

Sekilas Tentang Jurnalisme Kuning

JURNALISME memiliki sejarah yang sangat panjang. Dalam situs ensiklopedia, www.questia.com tertulis, jurnalisme yang pertama kali tercatat adalah di masa kekaisaran Romawi kuno, ketika informasi harian dikirimkan dan dipasang di tempat-tempat publik untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan isu negara dan berita lokal. Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai mengembangkan berbagai metode untuk memublikasikan berita atau informasi.

Lalu sekitar tahun 1800-an muncul istilah yellow journalisme (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk pertempuran headline antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst.

Yang menjadi ciri jurnalisme kuning adalah pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pemuatan judul utama yang menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu: menarik perhatian pembaca !

Pernahkan Anda menjumpai judul-judul berita yang bombastis, tetapi setelah dibaca isinya tidak substansial? Misalnya, Suami Bantai istri di depan Anak, Kemaluan Tiga Pelaku Pengeroyokan Disundut Rokok, Mata Perampok Ojek Dicongkel Massa, Gara-gara Ingin Memiliki Sepeda Motor; Pelajar Gorok Leher Teman, Malu Melahirkan Hasil Hubungan Gelap: Wanita Patahkan Kaki Bayi. Ini beberapa judul berita yang berasal dari media cetak yang pernah terbit di Jakarta.

Diantara judul-judul itu ada kesamaan. Kasus yang sedang dibahas ditulis dengan hiperbola. Seolah terkesan seram, angker, sadis, kejam dan semacamnya. Misalnya pilihan kata dibacok, digorok, tewas terpanggang, atau mata dicongkel. Padahal bisa jadi tidak seperti itu kenyataannya. Bisa jadi juga seseorang tewas biasa, tetapi kalau sudah masuk konstruksi berita media cetak seperti itu judul menjadi masalah lain. Dengan kata lain, ada sesuatu yang dibesar-besarkan untuk menarik perhatian pembaca.

Berdasar penjelasan Nurudin, Seorang Penulis dari Universitas Muhammadyah Malang, Orang akan tertarik untuk membaca atau membeli koran, yang diperhatikan pertama kali adalah judulnya. Apalagi judul-judul yang dibuat sangat bombastis. Bahkan untuk menarik perhatian pembaca, judul-judul yang dibuat ditulis secara besar-besaran dengan warna yang mencolok dan tak jarang disertai dengan gambar yang sadis.

Jurnalisme kuning adalah jurnalisme pemburukan makna. Ini disebabkan karena orientasi pembuatannya lebih menekankan pada berita-berita sensasional dari pada substansi isinya. Tentu saja, karena tujuannya untuk meninngkatkan penjualan ia sering dituduh jurnalisme yang tidak profesional, dan tak beretika. Mengapa? Karena yang dipentingkan adalah bagaimana caranya masyarakat suka pada beritanya. Perkara ia diprotes oleh kalangan tertentu tidak akan bergeming. Perkara isinya tidak sesuai dengan fakta yang terjadi, itu soal nanti.

“Ketakutanku”

Di sini di media ini aku bekerja. 3 minggu lamanya mencoba mengerti dan memahami arti dari sebuah kata : JURNALISTIK. Baru 3 minggu, beberapa dari rekan akademisi menohokku dengan pertanyaan-pertanyaan maut.

Diantaranya mereka bertanya mengenai pemberitaan media ini yang terkesan “bombastis’ dan “sensasional”.

Dari obrolanku dengan rekan Hendi kemudian aku berpikir. Mana yang lebih dulu menciptakan kebutuhan ? Kebutuhan akan info online yg cepat. Apakah media yg membentuk “kecepatan”, ataukah manusia di teritori tertentu yg punya budaya “kecepatan” itu
…..

Apakah tidak ada keinginan buat mencipta yg khas dlm artian mengubah pola perilaku manusia yg semakin hari super cepat ini?

Mungkin kita benar. Kita tidak mengorbankan bahasa untuk sebuah “kegampangan” semata atau tepatnya kualitas itu sendiri.

Berkaca dari media ini yang judulnya selalu bombastis, sensasional, salah-2 kita malah terjebak di ranah jurnalisme kuning.

……….
Ketakutanku adalah detik mengubah pola pikir masyarakat kalangan akademis dan praktisi, menjadi pola pikir (sori sy bukan bermaksud menjudge) ala tukang2 becak yg suka baca meteor,warta kota dll (ini perumpamaan aj)

Ini bahaya, baik secara teknis bahasa maupun konteks dan kualitas berita, Saya rasa detik bisa dihormati jika mau memperhatikan ini, karena media kita memegang opini publik yang luar biasa di masyarakat.

Jadilah Pekerja Media Yang Baik

Beberapa dari mereka tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Media ini memang memegang peranan penting di masyarakat. Banyak institusi penting membaca media ini.

Pernah suatu saat rekan saya seorang PR dari sekolah ternama di Tangerang menelpon saya pagi-pagi buta. Ia bak kebakaran jenggot saat ada orangtua murid menulis di suara pembaca detik.

Ini berarti media ini sudah menjadi bagian dari kehidupan orang-orang kantor, akademisi, mahasiswa dan kalangan terpelajar lainnya.

Lalu apa yang harus dilakukan seorang pemuda seperti saya yang belajar mengenai media? Apakah harus menelan ludah sendiri seperti senior-senior saya lainnya ? Ataukah ikut arus dalam hal “menguasai pasar”

Apa yang dihawatirkan aku dana beberapa temanku tidaklah benar (namun juga tidak salah). Karena media ini tidak selalu mengeluarkan ‘racun-racun’ berbahaya yang dapat merubah opini publik.

Yang mereka dan kita khawatrikan sebenarnya cuma 1 : KEHILANGAN PEMBACA !!!

Thats it. So marilah kita menjadi pekerja media yang baik. Dengan menaati semua perintah bos dan menjalankan pekerjaan kita secara wajar. Kelak siapa tahu kita bisa berada di level Extra Media…


TAGS


-

Author

Follow Me