Media & Jurnalisme Online

10 Sep 2009

5 Prinsip Dasar Dalam Jurnalisme Online


Paul Bradshaw membagi 5 prinsip dasar dalam jurnalisme online : B-A-S-I-C

1. B => Brevity = Ringkas
bersumber dari Jakob Nielsen: http://bit.ly/G4auC , audience kini membaca 25 % lebih pelan dan kurang dari 28 % isi berita. Ini berarti media online harus berbasis pada tulisan dengan model “1 ide/paragraf”. Atau dengan kata lain penyampaian bahasa dalam media online harus singkat, padat dan jelas.

Untuk penggunaan berita video waktu 3 menit bahkan kini dirasa terlalu lama. Satu alasan yang simple adalah karena efektifitas bandwitch

———————————————-
2. A => Adaptability = Penyesuaian diri terhadap teknologi

Kunci dari skill baru seorang online journalist adalah pada adaptability. Di era online ini media generasi II (broadcast; TV & Radio) pasti memiliki website tersendiri. Dan web site tersebut harus beradaptasi dengan teknologi seperti :

* (Hyper)Text
* Audio
* Video
* Still images
* Audio slideshows
* Animation
* Flash interactivity
* Database-driven elements
* Blogs
* Microblogging/Text/email alerts (Twitter)
* Community elements - forums, wikis, social networking, polls, surveys
* Live chats
* Mapping
* Mashups

Ini bukan berarti bahwa seorang online journalist harus menguasai semua teknologi itu, melainkan lebih pada efektifitas penggunaan sebuah videoblog, foto atau audio pada tempatnya. Hal ini membutuhkan kinerja tim news yang baik dibalik meja redaksi yang berawal dari sebuah ide segar tentunya.

Akhirnya, seiring perkembangan teknologi web 2.0 seorang online journalist harus memiliki skill sebagai berikut :
- Skill penulisan berita : aktualitas & kedalaman
- Mereka harus memiliki koleksi RSS Feed, untuk memantau sebuah isu.
- Mereka harus mengerti skill dasar video, audio dan foto.
- Mereka harus paham software editing.
- Mereka harus sering bermain dengan generasi web 2.0 : Blog, Flickr, Facebook, youtube.

——————————————————-

3. S => Scannability = Mudah dicerna

Kini audience pun lebih berorientasi pada isi pesan. Merekalah yanhg mencari isi pesan berita pada sebuah web site. Jika mereka menemukan isi pesan mereka akan terus membacanya. Jika mereka tidak menemukan yang mereka cari, mereka akan langsung menutupnya dan pergi ke website lain.

Paul Bradshaw mengatakan 95 % web user (audience media generasi III) akan melihat headlines, subheadings, links dan hal-hal lain yang membantu pencarian informasi mereka. Hal ini berkaitan dengan pemecahan artikel dan penulisan dengan bahasa singkat dan sederhana dengan penekanan poin tertentu dengan font atau hiperlink yang memudahkan pembaca untuk mencerna isi pesan.

Pada media cetak: pemakaian help browser, sidebar, foto, dan indeks.

Pada Media Broadcast : pemakaian intro, dan establish shoot.

Faktor-2 pendukung scanability :
- Judul headline yang berbicara
- RSS
- Subheadings
- Indeks
- kutipan langsung
- hyperlinks
- highlighted words
- Search Engine Optimisation (SEO)

2 kata pertama sangatlah krusial dalam hal ini.

Jakob Nielsen pernah berkata :
Given that users often read only a couple of words from each text element, you should reduce duplication of salient keywords.

Dont use the same initial keywords in your headline and summary. You have 4 words to make your point, so use 4 different words.

Avoid repeating any headline words in the summary, except for the most important one or two keywords. You can repeat these halfway through the summary to reinforce them for people who scanned past them in the headline.

Dari perkataan tersebut kembali ke pembahasan konsep klasik, pada dasar-dasar jurnalisme mengenai contoh orang dan anjing. Berita “Seorang pria menggigit anjing” tentu lebih efektif daripada “Anjing digigit seorang pria”.

——————–

4. I => Interactivity = Sangat Interaktif

Interactivity bukan video, atau multimedia. Melainkan faktor yang memberikan kesempatan pada audience untuk melakukan kontrol penuh.

Ada sebuah konsep yang mengidentifikasikan 2 dimensi terhadap interacticity tersebut.

Dimensi pertama adalah waktu dan ruang, dimensi kedua input dan output.

interactivity matrix

1 buah poin penting yang dapat didapat dari penjelasan di atas adalah membiarkan audience (viewer) menjadi pengguna (user).

—————————————————————–

5. C => Community & Conversation = Konsep Web 2.0

Konsep Web 2.0 = Media Online adalah penjaring komunitas. Make the community and the money will follow you.

Pada era ini, media online membutuhkan sebuah komunitas jika ingin menguasai pasar. Audience tidak hanya ditempatkan sebagai pembeli saja, melainkan kontributor aktif, moderator bahkan editor (seperti konsep KOKI milik KOMPAS). Memperuasi audience untuk bergabung dalam sebuah komunitas/jaringan adalah sebuah tantang tersendiri (seperti pada detik dan KOMPAS) yang kini banyak dihadapi di era Web 2.0

Di era Web 2.0 konten berita bukan sebagai sesuatu yang utama lagi, melainkan Conversation. Beberapa tahun lalu, mungkin e-mail adalah sesuatu yang sering digunakan untuk berkomunikasi. Namun sekarang penggunaan e-mail telah tergantikan oleh peran social networking dan instant messaging. Penggunaan Blog dan Forum adalah instrumen yang tepat untuk meraih audience.

Sebuah media online jika diibaratkan adalah percampuran antara tamu sebuah pesta dengan sang pemilik pesta itu sendiri. Ia harus bisa menempatkan diri dan berbicara dalam beberapa hal semisal:
- Aktif dalam komunitas itu sendiri. Meng-komen sebuah berita, blog atau melakukan sebuah posting di forum, meng-update wiki bahkan aktif dalam social network. (comment)
- Sangat terbuka terhadap kritik dan saran melalui comment atau e-mail. (open up)
- Efektifitas penggunaan RSS Feed, Widget atau Wiki.
- Menunjukan bahwa ia sangat antusias terhadap semua anggota komunitas. (respond)
- Menunjukan kepada komunitas antusiasme tersebut dengan hyperlink kepada sumber isu/sumber berita (linking)
- Yang terpenting adalah ; menjadi pendengar yang baik. (listen)

http://onlinejournalismblog.com/wp-content/uploads/2008/09/conversationloop.gif



TAGS


-

Author

Follow Me