Pernikahan berbeda agama dilarang di Indonesia karena Pemerintah RI menginjak-injak HAM

26 Jun 2010

Pernikahan berbeda agama dilarang di Indonesia karena Pemerintah RI menginjak-injak HAM (Hak Azasi Manusia).

Kita semua tahu bahwa RI telah meratifikasi Deklarasi HAM Universal. Dan isi dari pasal 16, ayat 1, Deklarasi HAM Universal adalah sbb:

Laki-laki dan Perempuan yang sudah dewasa, dengan tidak dibatasi kebangsaan, kewarganegaraan atau agama, berhak untuk menikah dan untuk membentuk keluarga. Mereka mempunyai hak yang sama dalam soal perkawinan, di dalam masa perkawinan dan di saat perceraian.

Karena pernikahan berbeda agama tidak mau dilakukan oleh pencatatan sipil di Indonesia, maka artinya sudah jelas bahwa Pemerintah RI melecehkan HAM. HAM dari mereka yg berbeda agama dan ingin menikah telah diinjak-injak oleh negara, dan situasi seperti itu masih berlangsung sampai sekarang.

-

Saya sendiri sangat terperangah ketika memperoleh pertanyaan spesifik tentang hal itu dari seorang ahli tentang Indonesia berkewarga-negaraan Australia, Prof. Dr. Julia Day Howell, dari Griffith University, Australia. Tanggal 23 Januari 2009 saya bertemu dengan Prof. Dr. Julia Day Howell di Jakarta. Ini pertemuan kami untuk pertama-kalinya. Dr. Howell berada di Jakarta untuk memberikan pidato pembukaan dalam acara “Urban Sufism Days” di Universitas Paramadina.

Ternyata Dr. Howell dan saya memiliki concern yg sama tentang masa depan kehidupan spiritual di Indonesia yg berkaitan dengan politik keagamaan negara. Kami sependapat bahwa sampai saat ini Indonesia masih tidak menghormati HAM Kebebasan Beragama (Religious Freedom) yg dibuktikan oleh susah atau tidak mungkinnya melakukan pernikahan antar agama. Kalau mau menikah, maka harus satu agama. Kalau agama berbeda, maka tidak bisa atau sangat dipersulit. Ini jelas melanggar HAM. So, sebagai pengamat dan pelaku spiritualitas kami memiliki pendapat sama bahwa negara harus sekuler. Harus ada pemisahan tegas antara negara dan agama. Negara hanya mengurusi kepentingan umum dan tidak boleh mencampuri urusan keagamaan.

Agama merupakan domain pribadi dari warganegara. Yg beragama itu pribadi per pribadi, para manusia yg menjadi warganegara. Negara sendiri tidak beragama karena negara bukan manusia. Segala kolom agama di dalam KTP dan berbagai formulir yg harus kita isi sebaga WNI merupakan pelanggaran atau setidaknya pelecehan HAM. Negara-negara modern sudah meninggalkan kebiasaan membedakan manusia berdasarkan agama. Bahkan menanyakan dan mencatat latar belakang agama warganegara saja bisa dianggap melakukan praktek diskriminasi. Negara modern cuma mencatat perjanjian sipil antara warganegara yg menikah. Tetapi pernikahan itu sendiri merupakan domain pribadi dari warganegara, dan negara sama sekali tidak berhak untuk menentukan bahwa hanya warganegara yg beragama sama saja yg bisa menikah.

So, berlainan dengan salah kaprah kebanyakan orang, sebagai pengamat dan pelaku spiritualitas kami justru mendukung sistem sekuler atau pemisahan tegas antara negara dan agama. Kenapa demikian? Karena spiritualitas manusia hanya bisa berkembang dalam masyarakat yg sekuler dimana kesempatan bagi semua manusia itu sama besar tanpa perlu dibedakan agamanya apa. Agama merupakan urusan pribadi, mau beragama ataupun tidak beragama merupakan HAM yg ada di diri tiap manusia. Kami tahu bahwa kultivasi spiritualitas manusia bisa dilakukan dengan metode apapun, baik melalui agama maupun di luarnya. Dan semuanya itu merupakan domain pribadi.

Negara tidak berhak menentukan apa yg baik dan tidak baik bagi domain pribadi warganegara, termasuk tidak berhak menentukan bahwa hanya mereka yg beragama sama saja yg bisa mengikatkan diri dalam pernikahan seperti praktek administrasi pencatatan sipil di Indonesia sampai saat ini yg jelas merupakan pelanggaran HAM kelas berat sehingga orang-orang yg berbeda agamanya dan ingin menikah terpaksa harus “memilih” salah satu agama. Memilih agama apapun merupakan HAM yg ada di diri manusia, tetapi “memilih” salah satu agama karena terpaksa keadaan, yg dalam hal ini dipaksa oleh situasi pencatatan sipil di Indonesia yg tidak mau menikahkan calon pasangan yg berbeda agama adalah hal lain. Hal pemaksaan pemilihan agama demi pernikahan seperti dipraktekkan di Indonesia merupakan pelanggaran HAM, dan bukan HAM Kebebasan Beragama dimana orang secara sukarela akan memeluk agama yg disukainya atau bahkan meninggalkan agama yg tidak lagi disukainya.

Mereka yg beragama berbeda harusnya bisa menikah tanpa dipersulit. Mempersulit atau melarang pernikahan berbeda agama merupakan pelanggaran HAM yg sangat serius. Ini merupakan pelanggaran HAM kelas berat karena seharusnya catatan sipil cuma mencatat saja pernikahan yg dilakukan oleh warganegara. Catatan sipil seharusnya cuma mencatat pernikahan, perceraian, kelahiran, adopsi, dan kematian, cuma itu fungsinya.

-

Lucunya, segala argumen tentang MANFAAT nikah satu agama dikeluarkan oleh orang-orang dengan mengatas-namakan Tuhan. Ternyata masih ada orang yg mencoba menjelaskan cara pandang Tuhan, pedahal itu tidak ada. Di dalam semua kebudayaan, dari jaman dahulu sampai sekarang, tidak pernah ada yg seperti itu. Yg ada cuma cara pandang manusia saja atau, paling jauh, cara pandang manusia yg mengaku-ngaku bahwa cara pandangnya adalah cara pandang Tuhan. Pedahal itu cara pandang dia sendiri saja. Kalau pun saya bilang bahwa Tuhan mau manusia menjadi diri sendiri saja, itu tetap kata-kata saya sendiri, dan bukan kata-kata Tuhan.

Semua orang yg memakai kata Tuhan di dalam ucapan atau tulisannya cuma bermain dengan kata-kata saja.

Ayat-ayat yg disucikan itu semuanya hasil dari pikiran manusia. Tidak ada Tuhan yg seperti digembar-gemborkan itu. Yg ada cuma manusia biasa-biasa saja, no different than you and me. Kalaupun di-nabi-kan, itu tetap masih manusia biasa. Kelebihan sang nabi mungkin karena dia tidak sadar bahwa dia menipu diri sendiri dan orang lain. Kita semuanya adalah manusia yg menciptakan Tuhan, kita sumpalkan kata-kata itu kepada sang Tuhan, dan lalu kita ucapkanlah kata-kata itu. Yg ada cuma kita sendiri saja. From the beginning until the end, cuma ada kita sendiri saja. Yg menciptakan Tuhan, yg menaruh kata-kata itu di mulut sang Tuhan (menurut gambaran yg muncul di pikiran kita), dan yg lalu mengucapkannya. Pedahal kita sendiri yg melakukannya. Itu modus operandi para nabi. Modus operandi sebagian dari kita juga, bahkan sampai detik ini.

Saya bukan membicarakan tentang belief about the existence of God. Ada yg believe it, dan ada yg tidak, dan itu tidak menjadi masalah. Yg saya bicarakan disini adalah tentang “cara pandang Tuhan”.

Sebagian orang petantang-petenteng menyodorkan “cara pandang Tuhan”, termasuk tentang pernikahan manusia, dan itulah yg saya sebut penipuan. Kenapa? Karena yg mereka bawakan itu merupakan cara pandang manusia belaka. Manusia yg mengaku-ngaku bahwa cara pandangnya adalah “cara pandang Tuhan”. Dilihat dari sudut manapun, apa yg disodorkan oleh orang yg mengaku membawakan “cara pandang Tuhan” tetap adalah cara pandang manusia. Manusia yg menggunakan istilah “Tuhan”. Cuma itu saja.

Semuanya cara pandang manusia saja, walaupun manusia itu berbicara seolah-olah dia membawakan “cara pandang Tuhan”. Kalaupun manusianya sesumbar tentang Allah, tetap saja itu cara pandang dia sendiri. Allah itu merupakan hasil permenungan dirinya sendiri yg dia bilang sifatnya “maha suci”. Allah sendiri tidak pernah akan muncul, yg muncul cuma sang manusia yg “mensucikan” Allah.

Mau diputar-putar dengan alasan apapun, semuanya jelas bahwa Allah itu ciptaan manusia. Konsep doang. Makanya saya tidak suka pakai konsep Allah yg bikin manusia normal menjadi goblok.

Cuma saya cenderung menyarankan untuk buang saja itu konsep Allah ke keranjang sampah. Korbannya sudah jutaan orang, tidak terhitung. Orang jadi bingung, dikiranya benar ada Allah yg menyuruh manusia untuk menikah satu agama saja. Gak taunya yg ada cuma kesadaran kita saja. Kesadaran yg sadar bahwa dirinya sadar. Kesadaran itu ada di anda, di saya, dan di siapa saja. Kesadaran inilah yg BISA berpikir dan mengkonsepkan sesuatu yg disebutnya Tuhan dan namanya Allah, yg konon sifatnya “Maha Suci”.

Pedahal yg lebih suci adalah yg menciptakan konsep itu, which is kesadaran manusia. Konsep Allah itu TIDAK suci, dan nilainya lebih rendah, karena itu hasil ciptaan dari kesadaran manusia yg berpikir.

Manusia yg bisa menjadi korban dari konsep Allah yg tidak suci dan nilainya lebih rendah itu.

diposting oleh : - Leonardo Rimba dalam grup facebook ‘Spiritual Indonesia’, Sabtu (26/6/2010)


TAGS


-

Author

Follow Me