Sex Dalam Ajaran Leluhur Nusantara (1/3)

16 Jan 2011

at

Sex! Apa yang ada di otak kita saat membicarakan tiga huruf pamungkas ini. Seolah menjadi senjata pamungkas, Sex sering dijadikan objek pendongkrak rating bagi media dalam kurun terkhir ini. Tak hanya kaum adam, meningkatnya kesetaraan gender pun menjadikan media dengan bumbu sex, bak dagangan yang laris dikonsumsi publik, dan ini juga berlaku bagi kaum hawa di Milenium ini.

Tapi kali ini saya tak akan membahas perihal media, gender, dan sex melainkan bagaimana sexual intercouse itu seharusnya dilakukan untuk membawa bibit baru manusia Nusantara yang berkualitas.

Sebenarnya, hal ini ingin segera saya tulis sepulang diskusi semalam pada bulan Suro di Gunung Salak beberapa waktu lalu, yang saya lakukan dengan Ki Semar Samiaji. Namun karena lagi banyak deadline dan kurang referensi, saya menundanya. Nah, setelah membaca beberapa pupuh ‘Serat Nitimani’ saya menjadi tahu klik-nya.

Dalam perspektif barat (merajuk wikipedia), sex is a process of combining and mixing genetic traits, often resulting in the specialization of organisms into a male or female variety (each known as a sex). Ok just like that. Selain itu sex juga digunakan sebagai bumbu dalam bahtera rumah tangga (bagi yang sudah berkeluarga). Pasangan sama-sama puas..done..

Sex dalam Tataran Jawa dan Sunda

Perspektif wikipedia di atas, langsung dibantah oleh Semar Samiaji (SS) kala itu. “Yang dinamakan bersetubuh itu, adalah menyatunya pikiran pria dan wanita dengan Tuhan,” paparnya di awal kalau saya tidak lupa.

SS lantas menjelaskan, para pepundhen leluhur kita dulu saat ingin melakukan hubungan intim untuk memperoleh keturunan, tidak asal dilakukan teriak-teriak, liar, asal, seperti bangsa barat dan arab. Leluhur kita (Jawa dan Sunda) memiliki cara yang hampir sama saat ingin menanamkan benih sang bapa ke rahim ibu.

Tentu keadaan pikiran sang bapa harus bersih, demikian juga ibu. Artinya, saat ingin ‘memproduksi benih’ tubuh dan pikiran sang bapak harus dalam keadaan paling sehat, tidak terkena penyakit fisik & mental, demikian juga sang ibu.
Jernihkan pikiran, sujud, meditasi, pasrah, sambungan jalur kelenjar pituari (jalur manusia ke Tuhan). Saat kondisi pria dan wanita sama-sama bersih, baru persetubuhan dilakukan. Pasti energi pikiran masing-masing pihak bakal membawa benih yang positif kelak.

“Kalau sekarang sifat bapaknya bawaanya emosi dan skeptis, ibunya tukang protes dan nangis, ya pasti DNA yang kebawa (energi pikiran, sukma, materia) pada si calon bayi bakal terkombinasi ya,” pikirku kala itu. “Oh..pantas saja saat ini banyak pasangan muda, stress menghadapi anak mereka yang kelewat bandel dan nakal saat balita. Le nggawe srampangan (buatnya juga asal-asalan),” tawaku kala itu :D

“Nah, makanya banyak di Indonesia anak-anak yang sifatnya negatif karena pas bikin timingnya juga negatif. Asal masukin lima menit selesai. Disambut glegekeenn puas…hekkk,” hahaha tawa SS kepada kami semua yang ada di Gunung Salak.

Saya pun berpikir bahwa liarnya free sex, yang banyak memunculkan anak tanpa bapak, aborsi, dan sebagainya itu kasian banget. Mereka tidak memahami jika ada nyawa baru yang serius bakal hadir di dunia.

“Leluhur kita (jawa-sunda) tidak seperti itu. Mereka selalu menyatukan pikiran dengan sang pencipta, agar kelak benih yang dikandung membawa banyak sifat positif,” sambungnya.

Ajaran Sex Dalam Serat Nitimani & Centhini

Dalam budaya Jawa norma serta aturan dalam melakukan hubungan seksual diturankan oleh orang Jawa melalui ajaran kepada keturunannya baik dalam betuk lisan atau tertulis. Dalam bentuk tertulis ajaran tersebut tertuang dalam karya sastra yang telah ada sejak zaman dulu. Karya-karya sastra yang mengangkat tema asmaragama antara lain :

1. Serat Gatholoco.
2. Serat Damogandhul.
3. Suluk Tambangraras (Serat Centhini).
4. Serat Nitimani.

Ada dua yang menarik bagi saya: Suluk Tambangraras (Serat Centhini) dan Serat Nitimani. Ketika pertama membaca serat centhini, sebagai generasi milenium baru yang sudah keracunan banyak informasi, jutru aneh melihat ritual persetubuhan yang cukup ‘mengrenyitkan dahi’ –bagi generasi saat ini.–

……(bersambung part II)


*maaf pinjam foto cucu mu, Murry Koseplus..aku ra nemu ilustrasi sing luwih pas :D, wanita Jawa dgn pesona yg sempurna


TAGS


-

Author

Follow Me